watch sexy videos at nza-vids!
KING OF SEX
Bookmark Now!!
http://kingsex.jw.lt

Warung Langganan
Not Found404; Not Found

Namaku Otong (bukan nama
sebenarnya), aku bekerja di sebuah
perusahaan cukup terkenal di Jawa
Barat, di sebuah kota yang sejuk, dan
saya tinggal (kost) di daerah
perkampungan yang dekat dengan kantor. Di daerah tersebut terkenal
dengan gadis-gadisnya yang cantik &
manis. Aku dan teman-teman kost
setiap pulang kantor selalu
menyempatkan diri untuk menggoda
cewek-cewek yang sering lewat di depan kost. Di sebelah kostku ada
sebuah warung kecil tapi lengkap,
lengkap dalam artian untuk
kebutuhan sehari-hari, dari mulai
sabun, sandal, gula, lombok, roti,
permen, dsb itu ada semua. Aku sudah langganan dengan warung
sebelah. Kadang kalau sedang tidak
membawa uang atau saat belanja
uangnya kurang aku sudah tidak
sungkan-sungkan untuk hutang.
Warung itu milik Ibu Ita (tapi aku memanggilnya Tante Ita), seorang
janda cerai beranak satu yang tahun
ini baru masuk TK nol kecil. Warung
Tante Ita buka pagi-pagi sekitar jam
lima, terus tutupnya juga sekitar jam
sembilan malam. Warung itu ditungguin oleh Tante Ita sendiri dan
keponakannya yang SMA, Krisna
namanya. Seperti biasanya, sepulang kantor aku
mandi, pakai sarung terus sudah
stand by di depan TV, sambil ngobrol
bersama teman-teman kost. Aku
bawa segelas kopi hangat, plus
singkong goreng, tapi rasanya ada yang kurang.., apa ya..?, Oh ya rokok,
tapi setelah aku lihat jam dinding
sudah menunjukkan jam 9 kurang 10
menit (malam), aku jadi ragu, apa
warung Tante Ita masih buka ya..?,
Ah.., aku coba saja kali-kali saja masih buka. Oh, ternyata warung Tante Ita
belum tutup, tapi kok sepi.., "Mana
yang jualan", batinku. "Tante.., Tante.., Dik Krisna.., Dik
Krisna", lho kok kosong, warung
ditinggal sepi seperti ini, kali saja lupa
nutup warung. Ah kucoba panggil sekali lagi,
"Permisi.., Tante Ita?". "Oh ya.., tungguu", Ada suara dari
dalam. Wah jadi deh beli rokok
akhirnya. Yang keluar ternyata Tante Ita, hanya
menggunakan handuk yang dililitkan
di dada, jalan tergesa-gesa ke warung
sambil mengucek-ngucek rambutnya
yang kelihatannya baru selesai mandi
juga habis keramas. "Oh.., maaf Tante, Saya mau
mengganggu nich.., Saya mo beli
rokok gudang garam inter, lho Dik
Krisna mana? "O.., Krisna sedang dibawa ama
kakeknya.., katanya kangen ama
cucu.., maaf ya Mas Otong Tante pake'
pakaian kayak gini.. baru habis mandi
sich". "Tidak apa-apa kok Tante, sekilas
mataku melihat badan yang lain yang
tidak terbungkus handuk.., putih
mulus, seperti masih gadis-gadis, baru
kali ini aku lihat sebagian besar tubuh
Tante Ita, soalnya biasanya Tante Ita selalu pakai baju kebaya. Dan lagi aku
baru sadar dengan hanya handuk
yang dililitkan di atas dadanya berarti
Tante Ita tidak memakai BH. Pikiran
kotorku mulai kumat. Malam gini kok belum tutup Tante..? "Iya Mas Otong, ini juga Tante mau
tutup, tapi mo pake' pakaian dulu? "Oh biar Saya bantu ya Tante,
sementara Tante berpakaian", kataku.
Masuklah aku ke dalam warung, lalu
menutup warung dengan rangkaian
papan-papan. "Wah ngerepoti Mas Otong kata Tante
Ita.., sini biar Tante ikut bantu juga".
Warung sudah tertutup, kini aku
pulang lewat belakang saja. "Trimakasih lho Mas Otong..?". "Sama-sama.."kataku. "Tante saya lewat belakang saja". Saat aku dan Tante Ita berpapasan di
jalan antara rak-rak dagangan,
badanku menubruk tante, tanpa
diduga handuk penutup yang ujung
handuk dilepit di dadanya terlepas,
dan Tante Ita terlihat hanya mengenakan celana dalam merah
muda saja. Tante Ita menjerit sambil
secara reflek memelukku. "Mas Otong.., tolong ambil handuk
yang jatuh terus lilitkan di badan
Tante", kata tante dengan muka
merah padam. Aku jongkok
mengambil handuk tante yang jatuh,
saat tanganku mengambil handuk, kini di depanku persis ada
pemandangan yang sangat indah,
celana dalam merah muda, dengan
background hitam rambut-rambut
halus di sekitar vaginanya yang
tercium harum. Kemudian aku cepat- cepat berdiri sambil membalut tubuh
tante dengan handuk yang jatuh tadi.
Tapi ketika aku mau melilitkan
handuk tanpa kusadari burungku
yang sudah bangun sejak tadi
menyentuh tante. "Mas Otong.., burungnya bangun
ya..?". "Iya Tante.., ah jadi malu Saya.., habis
Saya lihat Tante seperti ini mana
harum lagi, jadi nafsu Saya Tante..". "Ah tidak apa-apa kok Mas Otong itu
wajar..". "Eh ngomong-ngomong Mas Otong
kapan mo nikah..?". "Ah belum terpikir Tante..". "Yah.., kalau mo' nikah harus siap lahir
batin lho.., jangan kaya' mantan suami
Tante.., tidak bertanggung jawab
kepada keluarga.., nah akibatnya
sekarang Tante harus bersetatus
janda. Gini tidak enaknya jadi janda, malu.., tapi ada yang lebih menyiksa
Mas Otong.. kebutuhan batin..". "Oh ya Tante.., terus gimana caranya
Tante memenuhi kebutuhan itu..",
tanyaku usil. "Yah.., Tante tahan-tahan saja..". Kasihan.., batinku.., andaikan..,
andaikan.., aku diijinkan biar
memenuhi kebutuhan batin Tante
Ita.., ough.., pikiranku tambah usil. Waktu itu bentuk sarungku sudah
berubah, agak kembung, rupanya
tante juga memperhatikan. "Mas Otong burungnya masih bangun
ya..?". Aku cuma megangguk saja, terus
sangat di luar dugaanku, tiba-tiba
Tante Ita meraba burungku. "Wow besar juga burungmu, Mas
Otong.., burungnya sudah pernah
ketemu sarangnya belom..?". "Belum..!!", jawabku bohong sambil
terus diraba turun naik, aku mulai
merasakan kenikmatan yang sudah
lama tidak pernah kurasakan. "Mas.., boleh dong Tante ngeliatin
burungmu bentarr saja..?", belum
sempat aku menjawab, Tante Ita
sudah menarik sarungku, praktis
tinggal celana dalamku yang
tertinggal plus kaos oblong. "Oh.., sampe' keluar gini Mas..?". "Iya emang kalau burungku lagi
bangun panjangnya suka melewati
celana dalam, Aku sendiri tidak tahu
persis berapa panjang burungku..?",
kataku sambil terus menikmati
kocokan tangan Tante Ita. "Wah.., Tante yakin, yang nanti jadi
istri Mas Otong pasti bakal seneng
dapet suami kaya Mas Otong..", kata
tante sambil terus mengocok
burungku. Oughh.., nikmat sekali
dikocok tante dengan tangannya yang halus kecil putih itu. Aku tanpa
sadar terus mendesah nikmat, tanpa
aku tahu, Tante Ita sudah melepaskan
lagi handuk yang kulilitkan tadi, itu
aku tahu karena burungku ternyata
sudah digosok-gosokan diantara buah dadanya yang tidak terlalu besar
itu. "Ough.., Tante.., nikmat Tante..,
ough..", desahku sambil bersandar
memegangi dinding rak dagangan,
kali ini tante memasukkan burungku
ke bibirnya yang kecil, dengan
buasnya dia keluar-masukkan burungku di mulutnya sambil sekali-
kali menyedot.., ough.., seperti
terbang rasanya. Kadang-kadang
juga dia sedot habis buah salak yang
dua itu.., ough.., sesshh. Aku kaget, tiba-tiba tante
menghentikan kegiatannya, dia
pegangi burungku sambil berjalan ke
meja dagangan yang agak ke sudut,
Tante Ita naik sambil nungging di atas
meja membelakangiku, sebongkah pantat terpampang jelas di depanku
kini. "Mas Otong.., berbuatlah sesukamu..,
cepet Mas.., cepet..!". Tanpa basa-basi lagi aku tarik celana
dalamnya selutut.., woow..,
pemandangan begini indah, vagina
dengan bulu halus yang tidak terlalu
banyak. Aku jadi tidak percaya kalau
Tante Ita sudah punya anak, aku langsung saja mejilat vaginanya,
harum, dan ada lendir asin yang
begitu banyak keluar dari vaginanya.
Aku lahap rakus vagina tante, aku
mainkan lidahku di clitorisnya,
sesekali aku masukkan lidahku ke lubang vaginanya. "Ough Mas.., ough..", desah tante
sambil memegangi susunya sendiri. "Terus Mas.., Maas..", aku semakin
keranjingan, terlebih lagi waktu aku
masukkan lidahku ke dalam
vaginanya, ada rasa hangat dan
denyut-denyut kecil semakin
membuatku gila. Kemudian Tante Ita membalikkan
badannya telentang di atas meja
dengan kedua paha ditekuk ke atas. "Ayo Mas Otong.., Tante sudah tidak
tahan.., mana burungmu Mas..
burungmu sudah pengin ke
sarangnya.., wowww.., Mas Otong..,
burung Mas Otong kalau bangun
dongak ke atas ya..?". Aku hampir tidak dengar komentar Tante Ita soal
burungku, aku melihat pemandangan
demikian menantang, vagina dengan
sedikit rambut lembut, dibasahi cairan
harum asin demikian terlihat
mengkilat, aku langsung tancapkan burungku dibibir vaginanya. "Aughh..", teriak tante. "Kenapa Tante..?", tanyaku kaget. "Udahlah Mas.., teruskan.., teruskan..",
aku masukkan kepala burungku di
vaginanya, sempit sekali. "Tante.., sempit sekali Tante.?". "Tidak apa-apa Mas.., terus saja..,
soalnya sudah lama sich Tante tidak
ginian.., ntar juga nikmat..". Yah.., aku paksakan sedikit demi
sedikit.., baru setengah dari burungku
amblas.., Tante Ita sudah seperti
cacing kepanasan gelepar ke sana ke
mari. "Augh.., Mas.., ouh.., Mas.., nikmat
Mas.., terus Mas.., oughh..". Begitu juga aku.., walaupun
burungku masuk ke vaginanya cuma
setengah, tapi sedotannya oughh luar
biasa.., nikmat sekali. Semakin lama
gerakanku semakin cepat. Kali ini
burungku sudah amblas dimakan vagina Tante Ita. Keringat mulai
membasahi badanku dan badan Tante
Ita. Tiba-tiba tante terduduk sambil
memelukku, mencakarku. "Oughh Mas.., ough.., luar biasa..,
oughh.., Mas Otong..", katanya sambil
merem-melek. "Kayaknya ini yang namanya
orgasme.., ough..", burungku tetap di
vagina Tante Ita. "Mas Otong sudah mau keluar ya..?".
Aku menggeleng. Kemudian Tante Ita
telentang kembali, aku seperti
kesetanan menggerakkan badaku
maju mundur, aku melirik susunya
yang bergelantungan karena gerakanku, aku menunduk dan
kucium putingnya yang coklat
kemerahan. Tante Ita semakin
mendesah, "Ough.., Mas..", tiba-tiba
Tante Ita memelukku sedikit agak
mencakar punggungku. "Oughh Mas.., aku keluar lagi..",
kemudian dari kewanitaannya aku
rasakan semakin licin dan semakin
besar, tapi denyutannya semakin
terasa, aku dibuat terbang rasanya.
Ach rasanya aku sudah mau keluar, sambil terus goyang kutanya Tante
Ita. "Tante.., Aku keluarin dimana Tante..?,
di dalam boleh nggak..?". "Terrsseerraah..", desah Tante Ita.
Ough.., aku percepat gerakanku,
burungku berdenyut keras, ada
sesuatu yang akan dimuntahkan oleh
burungku. Akhirnya semua terasa
enteng, badanku serasa terbang, ada kenikmatan yang sangat luar biasa.
Akhirnya spermaku aku muntahkan
dalam vagina Tante Ita, masih aku
gerakkan badanku rupanya kali ini
Tante Ita orgasme kembali, dia gigit
dadaku. "Mas Otong.., Mas Otong.., hebat Kamu
Mas". Aku kembali kenakan celana dalam
serta sarungku. Tante Ita masih tetap
telanjang telentang di atas meja. "Mas Otong.., kalau mau beli rokok
lagi yah.., jam-jam begini saja ya.., nah
kalau sudah tutup digedor saja.., tidak
apa-apa.., malah kalau tidak digedor
Tante jadi marah..", kata tante
menggodaku sambil memainkan puting dan clitorisnya yang masih
nampak bengkak. "Tante ingin Mas Otong sering bantuin
Tante tutup warung", kata tante
sambil tersenyum genit. Lalu aku
pulang.., baru terasa lemas sakali
badanku, tapi itu tidak berarti sama
sekali dibandingkan kenikmatan yang baru kudapat. Keesokan harinya
ketika aku hendak berangkat ke
kantor, saat di depan warung Tante
Ita, aku di panggil tante. "Rokoknya sudah habis ya.., ntar
malem beli lagi ya..?", katanya penuh
pengharapan, padahal pembeli
sedang banyak-banyaknya, tapi
mereka tidak tahu apa maksud
perkataan Tante Ita tadi, akupun pergi ke kantor dengan sejuta ingatan
kejadian kemarin malam.

<<Back to Cerita Dewasa
HHome

TOP-RATING

©2026 Benoze Corporation